Halaman

Salam Persaudaraan Dunia dan Akhirat.

WALI ALLAH SWT ....



AL WALI’ ADALAH ORANG YANG DEKAT KEPADA ALLAH SWT.

Wali menurut bahasa ertinya ‘qarib’ yakni dekat. Jadi Wali Allah (kekasih Allah) ialah orang yang sentiasa bertaqarrub (mendekatkan dirinya) kepada Allah swt.

Bagaimanakah seseorang boleh dekat dengan Allah?

Caranya ialah dengan :

1. Memenuhi kewajiban-kewajiban dan tugas-tugas yang Allah perintahkan.
2. Menjauhkan diri dari apa yang Allah larang.

Jadi apabila sahaja kita mendengar perkataan "Waliyullah atau Auliyaa' Allah" (bentuk jamak), ianya menunjukkan kepada orang yang dekat kepada Allah dan orang yang dekat kepada Allah adalah orang yang :

1. Sempurna dalam melaksanakan tanggungjawab yang diperintahkan.
2. Sentiasa berbicara tentang kebenaran.

Di atas dasar itulah, Imam An Nawawi mengertikan ‘Wali Allah’ disini ialah orang yang beriman (mukmin).

Jadi mukmin yang :

1. Tekun beribadat lagi tabah dalam mentaati Allah.
2. Melaksanakan suruhanNya dan menjauhkan dirinya daripada maksiat.
3. Tidak terlalu mementingkan kesedapan duniawi.

Mereka inilah yang disebut dengan ‘Wali Allah’.

‘Wali Allah’ ada pada setiap masa dan zaman tetapi mereka agak susah untuk dikenal pasti.

Jadi "wali" adalah "Al Qareeb" iaitu orang yang dekat kepada Allah dan "kaafir"
(orang yang tidak beriman) adalah "Al Ba'eed" iaitu orang yang jauh dari Allah.

Wali adalah orang yang dekat dengan kasih sayang Allah dan ampunanNya manakala orang kafir adalah orang yang jauh dari kasih sayang dan ampunanNya.

Allah swt berfirman :

"Katakanlah : "Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang –orang yang dipanggil dari tempat yang jauh." (QS Fusshilat : 44)

Allah swt berfirman :

"Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (QS Al `Alaq :19)



‘AL WALI’ ADALAH MEREKA YANG SALING MENGASIHI KERANA ALLAH SWT

Golongan inilah yang cuba dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada Saidina Umar Ibnu Al Khattab ra dalam dialog mereka :

Rasulullah saw berkata :

Para Nabi dan para syuhada’ akan cemburu kepada segolongan hamba Allah kelak di akhirat kerana kedudukan mereka yang tinggi di sisi Allah padahal mereka bukan para Nabi.

Umar bertanya : Siapakah mereka wahai Rasul?

Rasululullah saw menjawab :

Mereka ialah satu kaum yang saling mengasihi sesama mereka semata-mata kerana Allah, bukan kerana hubungan silaturrahim atau kerana harta. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka bercahaya, mereka memiliki beberapa mimbar yang bercahaya. Mereka tidak takut di kala manusia lain merasa takut, dan mereka tidak sedih di kala manusia lain merasa sedih. 
Lalu Rasulpun membaca ayat 62-63 dari surah Yunus :

“Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Iaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (QS Yunus : 62-63)

Seseorang itu dikatakan seorang ‘wali’ dari ‘Auliyaa'Allah’ apabila :

1. Ia berbicara tentang kebenaran.
2. Ia menyeru kepada kebaikan.
3. Ia mencegah kemungkaran.
4. Ia berjihad di jalan Allah.
5. Ia menegakkan Agama Allah.
6. Ia memikul dan meneruskan amanah dan risalah para nabi dan rasul.

Semua hamba Allah adalah sama, akan tetapi Allah meninggikan mereka yang memiliki ketaqwaan yang lebih (Takut terhadapNya) .

Allah swt berfirman :

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al Hujuraat : 13)
 
Junaid Al Baghdadi pernah ditanya,

"Apakah wali adalah orang yang berjalan di atas bumi?"

Beliau menjawab, "Tidak."

"Apakah orang yang berjalan di atas air?"

Beliau menjawab lagi "Tidak."

Lalu beliau menambah,

"Wali adalah orang yang kamu lihat di tempat yang halal (memenuhi kewajibannya) dan kamu tidak menemuinya di tempat yang haram. Sesuatu yang membuat kamu dekat kepada Allah akan membuatmu merasa tinggi, tenang, gembira dan beruntung".

Oleh kerana itu, Wali berada di tempat yang Allah menginginkannya berada dan tidak ada dari tempat yang Allah tidak inginkan dia berada di sana.

‘AL WALI’ ADALAH MEREKA YANG BERIMAN DAN BERTAQWA

Berdasarkan huraian ayat-ayat Al Qur’an dan hadis Nabi saw di atas dapatlah disimpulkan bahwa syarat utama untuk menjadi ‘Wali Allah’ ialah :

1. Iman.
2. Taqwa.

Kasih sayangNya terbuka kepada setiap orang. Peliharalah diri kita untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang difardhukan dan jauhkan diri kita dari apa yang Allah larang kerana hal ini akan menyebabkan kita menjadi salah seorang dari ‘Auliyaa' Allah’.

Allah swt berfirman :

"Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Iaitu) orang-orang yang beriman dan mereka sentiasa bertakwa,. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS Yunus : 62-64)

‘AL WALI’ ADALAH PENOLONG AGAMA ALLAH SWT.

Orang yang menolong agama (Deen) Allah adalah ‘Auliyaa'-Nya’ dan Allah berjanji untuk menolong mereka dan menjadikan mereka teguh dalam pendiriannya.

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. " (QS Muhammad : 7)

Jika kita menegakkan perintah Allah bererti kita menolong agamaNya, kemudian Dia (Allah) akan menolong kita. Apbila manusia memenuhi perintah Allah, maka akan diberikan kekuasaan oleh Allah terhadap DeenNya di muka bumi.

Allah tidak memerlukan pertolongan kita, namun, jika kita menolong DeenNya maka Dia (Allah) akan menolong kita.

Mudah untuk mengatakan, "Satu juta ringgit" akan tetapi tidak mudah sebenarnya mengumpulkan wang sejumlah itu.

Begitu juga sebagai perbandingan bahwa amat mudah untuk menyebut, "waliyullah" akan tetapi menjadi ‘wali Allah’ adalah sesuatu yang berbeza.

Tingkatan atau kedudukan tertinggi dalam makna perkataan ini adalah menjadi "Abdullah" (hamba Allah), bukan menjadi seorang doktor, jurutera, ahli politik atau sesuatu yang lain.

Kehormatan tertinggi serta memiliki hak-hak yang istimewa hanya mampu diraih apabila ia mencapai keridhaan Allah bukan tingkatan PhD, Degree atau Diploma.

Tidak akan menjadi hamba yang dekat dengan Allah kecuali kerana dia memenuhi apa sahaja yang Allah wajibkan ke atasnya untuk dilakukan seperti :

1. Menegakkan solat.
2. Membayar zakat.
3. Memberi nasihat kepada sesama muslim.
4. Menyeru kepada kebaikan.
5. Melarang keburukan.
6. Berjihad dan berusaha untuk menentang hukum-hukum buatan manusia dan
perlakuan syirik.
7. Mengajar manusia tentang Islam.
8. Berjuang untuk mengembalikan semula khilafah yang telah hilang.
9. Membantu mereka yang memerlukan.

dan berbagai kewajiban lain.

Jadi, jika kita melakukan yang ‘fardhu’ (wajib) maka kita akan menjadi orang yang dekat kepada Allah dan jika kita gagal mengerjakannya, maka Allah akan menghukum kita.

Jika kita telah mengerjakan kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan, setelah itu kita mengerjakan pula amalan-amalan ‘Nawafil’ (sunat-sunat) , maka inilah yang akan membuatkan kita lebih dekat kepada Tuhan kita.

Orang yang menjadi ‘wali Allah’ akan dilindungi oleh Allah swt. Allah akan menjadikan ia kebal terhadap bisikan syaitan di mana :

1. Allah akan mencegah pendengarannya dari mendengar sesuatu yang dilarang.
2. Allah akan mencegah matanya dari melihat apa-apa yang terlarang.
3. Allah akan mencegah lisannya dari kata-kata yang buruk.
4. Allah akan mencegah perbuatannya dari mengerjakan sesuatu yang haram.

Inilah yang dimaksudkan oleh hadist :

"… Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia bergerak dengannya dan kakinya yang ia berjalan dengannya…"

Oleh itu marilah kita lakukan yang ‘fardhu’ dan tambah dengan yang ‘sunat’ serta jauhi yang ‘haram’ maka dengan itu kita akan dicintai oleh Allah swt dan menjadi salah seorang dari ‘Auliyaa'Nya’, InsyaAllah.